Thursday, November 17, 2011

Anak Ayam dan Rajawali

SHARE pengalaman dan sebuah pola pikir

Kawan apakah kamu ingat cita2 mu waktu masih kecil, banyak hal yang paling kalian inginkan mungkin lebih dari satu, cita2 yang tinggi menjulang. Impian atau cita2 itu merupakan sebuah Visi kita tentang masa depan, Otak kita membanngunnya sesuai kemampuan kita sesungguhnya, murni tanpa sebuah hambatan. Namun seiring waktu waktu membawa kita ke dalam sebuah lingkungan yang secara mayoritas memiliki pola yang sama, sebuah keterbatasan dari sebuah pendidikan formal yang kaku membayangi impian setiap orang yang mengenyam pendidikan formal.

Coba aku ceritakan sebuah cerita penggambaran dari sebuah buku;

Seekor Rajawali tak sengaja menjatuhkan telurnya ke kandang ayam. Tanpa disengaja, telur rajawalitersebut dierami oleh induk ayam bersama-sama ayam lainnya.

Burung Rajawali kecil akhirnya menetas dan tumbuh bersama-sama anak ayam yang lain.induk ayam mengajari semuanya, termasuk si rajawali kecil, untuk mencari cacing dengan mengais tanah dengan cakar mereka. Induk ayam juga mengajari bahwa mereka memiliki sayap namun tidak dapat terbang.

Sehingga si burung rajawali tumbuh sebagai ayam seperti saudara lainnya.

Setelah Rajawali tumbuh dewasa, suatu hari ketika sedang mengais tanah untuk mencari cacing bersama saudara ayam lain, si Rajawali melihat seekor burung besar gagah yang terbang di angkasa. Lalu berkata rajawali ke ayam lain. "Lihat di atas ada seekor burung besar yang indah sedang terbang. Ohh.. seandainya aku juga bisa terbang di angkasa seperti itu".

Lalu ayam2 menjawab "Hei jangan mimpi, burung yang kau lihat itu seekor Rjawali. Mereka dilahirkan memang untuk terbang di angkasa yang tingggi.Kita ini ayam , kita dilahirkan untuk mengais tanah dan mencari tanah. Jangan mimipi menjadi rajawali, Kamu kan tidak bisa terbang".

Karena itu, sayangnya si rajawali muda melanjutkan mengais tanahnya untuk mencari cacing. (A Gift from a Friend : Merry Riana).

Mungkin sering ketika kecil banyak mendengar larangan dari orang tua / guru jika kita memiliki suatu ide atau cita - cita. Kita diarahkan untuk menjadi apa yang ada dipikiran mereka. Sedangkan apa yang murni baru dalam pikiran kita saat kecil justru ditekan supaya tidak bentrok dengan keinginan orang tua / guru.

Banyak dari kita sudah terarah ketika menggambar suatu pemandangan adalah dua buah gunung dengan jalan di tengah dan sawah mengapit jalan. Hal ini persis seperti apa yang dialami si rajawali. Coba jika saja dia mengabaikan omongan teman - temannya, berkaca dan mencoba untuk terbang. Hidup itu memang pilihan, kamu boleh terbang tinggi menjadi rajawali, atau tetap mengais tanah menjadi seekor ayam. Dan semua ada konsekwensinya / Resiko.

Suatu hari aku pernah ditanya kedua orang tuaku. Saat itu aku dihadapkan dengan sebuah pilihan. "Apakah kakak perempuanmu yang kuliah atau kamu sendiri yang kuliah" Ujar kedua orang tuaku. Aku dengan santai menjawab tentu saja kakak perempuanku, karena dia sebentar lagi ujian SPMB. sedangkan aku masih memiliki 2 tahun dengan segala kemungkinan dimasa depan yang belum jelas. Aq memiliki beberapa pertimbangan yang ke dua orang tuaku tidaklah tahu. Selama di tahun pertama saat aku kelas 2 aku mungkin tak melakukan apa - apa namun di tahun ke 2 sejak keputusan itu aku mengambil sikap. Setelah di kelas 3 aku berhenti dari semua organisasi, dan fokus belajar. Selain itu untuk memenuhi kekuranganku di sektor pelajaran eksak, aku berjualan pakaian dari suatu multi level marketing. Dari hasil berjualan aku bisa mendapatkan dana untuk les. Omset aku melesat setelah merekrut temen dekatku yang ternyata memiliki akses konsumen yang baik. satu jalan supaya kepalaku jadi rada ngisi buat SPMB nanti sedikit terlaksana. Karena menurutku gak cukup aku segera melobi ortuku suapaya aku dimasukan ke Bimbingan belajar. Saat itu temanku melobi phak bimbel agar bisa memasukan kami di semester akhir dengan harga lebih murah dibanding jika kami mengikuti dari awal.

" Man jadda wajada == Barang siapa yang bersungguh - sunggguh pasti berhasil "

Walaupun sebenarnya ke 2 orang tuaku jelas - jelas tidak akan menguliahkan aku, aku beralasan bahwa aku ikut bimbel supaya lulus UAN. Dan akhirnya aku diberi dana untuk bimbel di lembaga yang cukup bagus di daerahku. Tapi dana itu tidak serta merta langsung aku setor ke pihak bimbe. Uang dari ibuku aku pakai untuk berjualan dulu hehehe. dari situ aku bisa memenuhi akomodasi untuk naik angkot dan jajan selama bimbel. Singkat cerita UAN dimulai dan akupun lulus dengan nilai yang baik. Sesuai dugaanku, UAN adalah hal yang tidak perlu terlalu dirisaukan. Namun SPMB lah yang memiliki saingan yang cukup berat.

SPMB pun akhirnya dimulai, Aku memilih Ilmu Komputer murni di UPI dan Pendidikan Teknik Elektro di UNNES. dari hasil SPMB aku berhasil menembus ke UNNES. Selain SPMB aku juga mengikuti GCE (sekarang UMPN) dan mendapatkan Teknik Konversi Energi di POLINES. Semua PTN yang aku tuju ada di semarang, itu memang rencanaku. Karena sebelum ke 2 orang tuaku bertanya siapa yang akan kuliah aku sudah ditawari belajar kursus oleh pamanku yang di semarang. Hanya saja saat aku menagih janji dia memiliki kemampuan finansial yang lebih baik. Sehingga dia tak lagi meng kursuskan aku, tapi justru mendanai kuliahku. Itulah sebuah kemungkinan dari hasil coba - coba yang berujung pada keberuntungan.

"" Man shobaro, Zhafira == Barang siapa yang bersabar pasti beruntung""

Mungkin itu cerita singkatku kenapa aku bisa kuliah. Tapi esensinya kalau saja saat itu aq medengar apa yang terpikir oleh ke 2 orang tuaku, tentu saja aku tidak bisa kuliah dan mengerjar keinginanku.

Bagaimanapun kondisi kita apakah kita terlahir sebagai seekor rajawali ataupun ayam sekalipun, jika memang ada kemauan pasti ada jalan.

Bulatkan tekad, luruskan niat, terus kejar apa yang kamu mau, jika terjatuh bangunlah kembali, jika salah belajar lagi. Semua pertanyaan untuk menjadi apapun dirimu adalah sebuah jawaban sederhana. Semua berawal dari impian, menjadi sebuah visi, dilanjutkan oleh sebuah aksi dan dipupuk kuat oleh sebuah hasrat yang menjadikan sebuah tindakan kontinyu hingga mencapai tujuannmu

Hidup itu pilihan, Maka pilihlah yang terbaik yang bisa kamu raih dalam hidupmu.

Written By Dindin Komarudin

No comments: