Old Cijalu
Sebenarnya aku cuma anggota malas yang sedang terserang flu di tour kali ini. semua peralatan dan keberangkatan diatur secara rapih oleh david yang menjadi ketua touring kali ini. Pengumpulan dana digalang daryanto, sepertinya ini memang bakalan rame. Pak herman yang selalu diam ternyata membuat sebuah tenda dari terpal di rumahnya. aku tak tahu ukurannnya pada saat dia cerita, namun katanya itu adalah tenda yang besar. Pak andi yang kali ini absen tidak dibarengi istrinya, menyiapkan perbekalan makanan untuk bakar-bakar malam hari, Bagaimana dengan aku sendiri, hehehe aku kebagian membawa gelas dan piring serta terpal untuk alas tidur, tas NOK ku cukup penuh dibuatnya. Tak lupa mas bro (Budi) yang membawa ransel besar, tak kalah besar dengan milik david dan temon (Eko).
Saat hari sabtu tiba mataku yang perih karena kurang tidur, aku redakan dengan guyuran air pagi hari, sebelum shalat subuh aku dah ga sabar cabut dari rumah. pagi itu aku mencuci motor Jupe (Julian Perdana) bareng bareng sebelum berangakat. tak lama setelah kering dan sarapan kami berkumpul di El gangga. teman2 sudah ready di situ dan segeralah menuju Plaza Metropolitan untuk menunggu teman, Jam 8:25 kita cabut dari sana menuju ke Cijalu.
@ Plaza Metropolitan
Perjalanan di hari cerah dan sejuk pagi ini di pimpin oleh Herman sebagai Leader rombongan touring kali ini. Ada beberapa tempat berhenti untuk menjemput teman, seperti lemah abang saat menunggu Latif, dan depan Terminal Karawang untuk menjemput beruang madu (Anang SSI). Saat itu hari benar2 Cerah dan nyaman terasa, wahh benar2 indah, membuatku lupa dengan hidung meler selama 2 hari ini.
Sang leader tour perlahan tapi pasti melahap semua kemacetan dan melenggang tenang di jalan lapang, tour ini menikmati perjalan, santai menuju tujuan. namun tiba2 saja rangkaian aparat berompi hijau menghadang sesaat sebelum jalur cepat berbahaya karena ada kecelakaan yang timbul akibat kaget dihalangi aparat. salah satu dari kami kena tilang, namun tidak mengendurkan semangat kami menuju cijalu.
Dan pada saat terlihat belokan yang memutar arah ke desa kami mendengar suara warga setempat,
"Jang cijalu, belok ka dieu ke teras ka kenca"
Aroma sejuk desa sudah semakin jelas saat kami mendengar kata2 itu. Setelah melewati jalan kampung akhirnya sampai di gerbang tiket juga, dengan Rp. 10.000,- per motor untuk yang boncengan dan Rp. 12.000,- untuk yang sendiri, kita bisa masuk tanpa perlu biaya parkir tambahan. setelah melewati gerbang tiket perjalanan justru baru dimulai disini, lihat jalan batu di kebun teh dengan pemandangan yang indah dibawah ini.
Pada saat tengah tengah jalan di kebun teh terdapat jalan menanjak licin dan tidak rata, Disini terjadi insiden kecil pak Blank (Hary) yang membonceng Beruang madu kehilangan kendali karena tidak mendapat pijakan untuk menahan bobot motor. Motor mega pro dengan velg tapak lebar itu seperti kuda liar yang hendak lari lalu terjungkal dan rebah mematahkan lampu sein kiri.
PART 2
Bukannnya mengerang kesakitan pak blank dan boncenger si beruang madu malah tertawa, david yang membantu kedua riders tersebut, segera mengangkat motor yang rebah. Ini tidak lagi sebuah insiden berdrah atau buruk lainnya, ini sebuah parodi dimana semua orang justru tertawa. Tidak selang beberapa lama moment ini justru diabadikan. Itulah kekonyolan yang mungkin hanya di engineering serangkaian orang kenyol yang menyenangkan.
Setelah sesi foto korban di TKP dilanjut sesi foto bersama yang tak kalah kocak dengan backgroud pemandangan yang cukup hijau, dibarengi udara segar dan mentari cerah.
Itulah hidup sebuah kebersamaan itu muncul karena sebuah warna, sesuatu yang disebut dengan saling melengkapi....
Sejenak kuhirup udara segar sebelum melanjutkan perjalanan (narsis dulu ahhhh).
Jalan berbatu bukannya hilang justru menggila dengaan turunan diikuti belokan yang tergenang air, sepertinya ini menjadi tikungan tajam terpercaya hahahaha (lebay mode on). Air terjun mulai terlihat samar dan terasa terhirup embun di hidungku. hingga sampai tiba di
Cilok merupakan sebuah makanan khas sunda yang memiliki histori kebersamaan bagiku. Sambil menunggu makanan yang dipesan di warung si emang emang tukang cilok disergap rame2. dibarengi fase foto foto yang cukup meriah
Namun diantara foto yang kami ambil saat itu mungkin foto temonlah yang paling konyol
Dengan gaya mngangkat kayu memakai rancatan, dipoles blankon di kepala membuatku membayangkan orang jadul yang sedang mencari kayu untuk tungku kayu bakar (Hawu). Gayanya yang jadul sepertinya melebihi kejadulan si pemilik warung yang memang tua beneran wkwkwk. selang beberapa, si emang-emng yang empunya warung ngasih tau kalau nasi udah jadi. Dengan penuh antusias karena lapar teman-teman langsung melakukan penyergapan ke warung. Menu telur ceplok yang di sediain si ibu pemilik warung lenyap disikat orang lapar.
Makan bareng
Setelah kami selesai mengisi penuh bahan bakar di tubuh kami, perjalanan ke curug dilanjutkan, kali ini dengan cara jalan kaki, sepatu diganti sandal, jalan berbatu dan licin jika basah kami lalui, setelah belok kiri dan turun kami menemukan curug kecil yang digunakan buat foto2 orang NOK versi jadul (hehehe orangnya sebagian masih ada).
Kami pun sempat foto-foto disana, namun aku lupa file foto2 tersebut disimpan siapa?? Karena masih setengah jalan, kami tidak lama-lama disana. Terus begerak diantara jalan bebatuan yang cukup sakit di injak jika memakai sendal jepit. Sepanjang jalan kecil berbatu tadi terdengar suara burung berkicau, angin semilir seperti mencoba mengipasi kami yang berkeringat. Pohon-pohon seakan memayungi dari sinar mentari dengan daunnya yang rindang. Selang beberapa waktu air terjun yang kami cari terlihat menjulang tinggi. Kami langsung girang, tapi bertanya tanya pula, dimana kami akan memasang tenda. Untungnya kami merupakan rombongan kemah yang datang pertama,
Kami mencari tempat nyaman dan cukup luas di sekitar air terjun, tadinya kami memilih tempat yang berdekatan jalan utama. Tapi setelah menyusuri semak belukar ditemukan tempat yang cukup baik dan berdekatan dengan sungai kecil dari aliran air terjun. Sungai merupakan hal terpenting saat berkemah, seperti beralih ke jaman dahulu kala. Dimana fungsi sungai adalah sumber penghidupan, dan pendukung perekonomian (jadi ngomongin sejarah wkwkwk). David langsung saja memimpin perencanaan pemasangan tenda. Bowo parkir Tenda mulai kami keluarkan dari tas ransel besar kami. Dan pak herman yang memiliki ide kreatif, yaitu membuat tenda dari aluminium foil dengan sekejap tenda itu berdiri, dan salah satu teman kami Bowo langsung saja memberi alas di tenda tersebut.
Namun... aih-aih aku kira dia keluar dan membantu kami memasang tenda selanjutnya, ehhh ternyata dia sudah parkir di dalam tenda dengan posisi PW tertidur di dalamnya... Capeee deeehhhh.
Aku, siswoyo, dan teman-teman lainnya memasang tenda modern yang cukup besar, walaupun sebelumnya belum pernah memasang tenda seperti ini perlahan tapi pasti tenda tersebut berdiri tegak. yang lainnya memasang tenda kecil yang cukup untuk 4 orang.
Santoso yang cukup aktif dalam setiap lini pekerjaan sangat membantu pekerjaan kami, semuanya jadi beres dan terkendali.
Setelah Tenda semua berdiri teman-teman angota sepertinya sudah tidak sabar lagi ingin merasakan dinginnnya air ke area air terjun. Entah siapa yang memulai, aku tak ingat dengan jelas siapa saja yang pertama bermain air tanpa instruksi. Namun di beberapa foto pelaku narsis yang malu-malu kucing itu tertangkap bidikan kamera, mungkin inilah tersangkanya.
Mungkin merekalah yang memulai dan harus diberi sangsi hahaha. Tak perlu menunggu begitu lama hingga semua kru kami berkumpul dan terjun langsung. dimulai dengan sesi foto bersama, terlihat teman-teman masih ragu untuk berbasahan.
Lalu sedikit demi sedikit kaki kami melangkah ke air yang agak dalam. Brrr dingin sekali rasanya, jari-jari kami terasa kaku bercampur segar. Air terasa dingin menusuk tulang kami, padahal masih siang bolong. Andai saja malam hari mungkin kami bisa beku (kalo beku bisa dijual ke tukang es).
Keriangan kami mungkin sedikit mengusik pengunjung lainnya, aku lihat pengunjung lain tak ada yang berani mendekat. Mungkin saja karena kami terlihat liar atau mungkin malu karena tidak kenal. Tapi aku lebih berpikir kalau aq dan teman-teman sepertinya liar hahaha (asal jangan kuda liar aja). kubangan air terjun yang berisi air jernih kami ubek ubek, mungkin saja kalau ada ikannya pada mabok seperti kena portas. Bayangkan saja badan abadan ornag kota yang mengandung banyak polusi atau mungkin limbah B3 memenuhi kubangan air jernih dan murni. Mungkin saja gak perlu kami semua membuat ikan-ikan mabuk, cukup saja Darblay (daryanto) dan beruang madu mencuci ketek mereka. Mungkin saja ketek mereka berisi racun saraf bagi ikan-ikan disana wkwkwkwk (Just kiding bro, jangan tersungging). Ahh..... baru saja aku dan yang lainnya terjun tapi matahari rupanya sudah lelah melototin tingkah laku kami yang konyol. Hari mulai gelap, sebagian perut dari kami mulai bergejolak, atau ada juga sebagian dari badan dan mata kami meminta secangkir kopi susu hangat.
Sebagian dari kami sudah mulai kelelahan. Setelah minum kopi susu hangat, aku mengganti bajuku yang basah dengan pakaian untuk malam hari. Haduhhhh.... walaupun sudah pake jaket tebal, dinginnya udara sore hari saja sudah terasa apalagi malam hari nanti. Kru kemah segera mempersiapkan kayu bakar untuk malam hari. Sebagian dari kami sholat ashar beralas tikar aluminium foil, sebagian sholat di atas batu besar. Hari mulai diselimuti kegelapan yang terasa dingin. Satu persatu kayu kami tumpuk berbentuk cone. Lalu spirtus yang dibawa kami siramkan. Korek api yang sepertinya basah karena kelembaban udara sulit dinyalakan. Kami agak kesulitan menyalakan api, untung saja manusia lokomotif (perokok) tidak sulit kami cari. Dengan korek api gas milik si perokok, spirtus tentunya mudah untuk kami nyalakan. Kami mulai menghangatkan badan sambil bergantian sholat magrib. Dimulai sekedar menghangatkan tangan, kaki,sampai area pantat pun dihangatkan (mungkin biar ga basi) ahahahaha... Setelah beberapa lama bara api terlihat. Bara api kami pindahkan ke area lain untuk dijadikan penyala tungku untuk membuat ayam bakar.
Ayam bakar kami cukup spesial,karena telah dipersiapkan oleh pak Andi dari rumahnya. Bumbu yang meresap di ayam terlihat hingga ayam tersebut kekuningan. Ketika ayam telah sedikit dipanaskan bara api, minyak sayur kami oleskan supaya ayam tidak gosong dan matang merata. Kemudian kecap hitam kental kami oleskan setelahnya, Olesan kecap tadi menghembuskan wangi ayam bakar semakin tercium. Perut kami langsung bergejolak, cacing di perut kami mungkin tahu dan melakukan aksi demonstrasi besar-besaran. Itu tandanya kami kelaparan (krubuk- krubuk bunyinya), Seakan-akan kami disuruh mempercepat pekerjaan pak Blank yang bertugas membakar ayam.
PART 3
Akhirnya orasi cacing kami usai, aspirasi diterima. Ayam bakar akhirnya dibagikan secara bertahap. buat yang merasa lapar banget jadilah orang TAKWA ( Tergeletak ya di bawa). Aku langsung ngembat satu potong ayam bakar. Dengan wangi asap dicapur kecap dicampur nasi dari warung yang kami pesan dan dibumbui rasa lapar, maka pesta ayam bakar dimulai. Aku, Jupe, siswoyo, mas Bro, Temon, Wira, dan pak Herman langsung nyari parkiran untuk makan.
"Makan itu ma apa aja enak, asal sudah lapar"
Seperti halnya orang kebanyakan, setelah perut ini kenyang rasa ngantuk melanda kami. Namun dengan suasana yang rame seperti ini kami sedikit bisa menahan rasa ngantuk kami. Dimulai dari sesi pemotretan bebas setelah makan hingga menndadak menjadi diam gara-gara ada warga sekitar yang menceritakan hal mistik sekitar air terjun. Hanya saja waktu ada cerita mistik aku ga ada, mungkin aku lebih menyukai bistik daripada mistik hahaha.
Api unggun dinyalakan lebih besar untuk mengusir dingin yang menyerang kami. Namun semakin malam hawa dingin rasanya semakin menusuk kami. Satu per satu anggota kami berjatuhan dan langsung parkir di tenda. Aku sendiri lebih dulu ketiduran di tenda sebelumnya. Malam semakin larut, tapi karena aku tidur lebih dulu maka mataku melek hingga larut malam tepetnya hingga jam 12 san. Saat aku tertidur tiba-tiba tenda yang dibuat pak Herman bergerak dan di dobrak Santoso. Hahahaha ternyata Santoso mengigau dan langsung berdiri mendobrak tenda. Tenda hampir roboh, dan bolong di sebelah kanan tendaku. Setelkah itu kegaduhan tidak berhenti, seleng beberapa saat serangan gas beracun dilancarkan mas Bowo dari asal tenda yang sama. Akibatnya korban berjatuhan dan segera mencari udara segar untuk pertolongan pertama (darurat sipil nih).
Kalo aku amati, tenda yang paling aman adalah tenda yang di isi Jupe, siswoyo dan Darblay. Lihat saja wajah tanpa dosa mereka, seperti anak burung yang akan diberi pakan induknya.
Aku sendiri semalaman hampir tak bisa tidur, setelah bangun kembali jam 3:30 aku membuat kopi berkali - kali hingga pagi. karena tak tahan hawa dingin disana, kau selendangkan handuku ke leher. Aku tidak mengira jika dingin sekali di cijalu, jadi aku cuma membawa jaket untuk naik motor saja. Walaupun sudah dilapis pakaian dua, tetap saja dingin brrrrrr.
Belum pada mandi
Persediaan kopi kami di pagi hari sudah masuk area injury. Mie yang masih banyak akhirnya di embat satu per satu. setelah badan kami bau jigou, bau asap, bau kentut, akhirnya kami satu persatu kembali mengubek - ubek kolam air terjun untuk mebersihkan badan. Berenang pagi2 tentu saja dingin sekali, Namun rasanya segar.
Mandi Pagi
Pagi hari di hari minggu banyak godaan ternyata. Banyak pasangan muda mudi pada berpasangan ke air terjun. Ahhh.... tapi tentu saja wanitalah yang cuma kami lirik hehehhe. Kontes BINARAGA maupun BINARANGKA dimulai saat kami mandi. Coba saja lihat antara aku Darblay dan Sis.
Air yang jernih kembali menjadi agak keruh. Kami menyempatkan terapi pijat dengan guyuran air terjun pagi hari. Rasa kantuk lelah dan pegal serasa hilang ketika guyuran air mensuk - nusuk kulit punggungku. aku rileks serasa mata ini menatap kabur dunia, hidupku mengalir seperti air. Menjadi deras jika mendapati jeram dalam, menjadi lambat mengalir saat sungai melandai. Uforia teman -teman yang gaduh di kolam terlihat seperti slow motion dalam sebuah kehidupan nyata. Semua terlihat jelas dibawah air terjun ini, bahwa waktu sedetikpun takan kembali jika telah berlalu.
Mulai dari saat itu semua serasa mimpi, berganti pakaian dan merapikan tenda semua berlalu seperti sebuah perpisahan yang tidak pernah kami inginkan. Mie instan dan tenda buatan pak herman kita berikan ke pemilik warung tempat kami menitipkan motor. Hari ini begitu hijaunya dimataku, cerah diselimuti dingin dengan kicau burung bersautan.
Briefing untuk berangkat pulangpun dimulai. Mulai dari safety riding dan arahan-arahan yang perlu kami perhatikan di bahas dan dipimpin David.Briefing pulang Semua anggota berkumpul melingkar. diakhiri do'a untuk keselamatan perjalanan kami. Dan satu per satu tangan kami saling bertumpuk ditengah, semua menyatu di akhir tour ini.
Briefing pulang
Seakan-akan kami saling menguatkan, struktur bangunan itu kokoh bukan hanya karena bahannya yang kuat, tapi karena kontruksi yang saling menyokong.
""Kebersamaan adalah pancaran warna yang terbentuk dari sebuah perbedaan""
About Dindin Komarudin
Hobi : Mengikuti perkembangan IT, Otomotif, Membaca novel / buku motivator, dan menulis berbagai artikel atau cerpen di blog.
Moto : "Do the best that you can do"
Folow me @ twitter : dindin95
Folow me @ facebook : www.facebook.com/dindin95
Google + : Dindin Komarudin
