Saturday, May 1, 2010

Menatap Masa Depan dari Sarang Tikus

Pagi Hari disaat mentari bersinar cerah aku sudah bergulat dengan puluhan kilogram tepung yang aku aduk dalam sebuah tempat penyampur adonan kerupuk, pukul 5 pagi hari adalah waktu paling sibuk di hari sabtu yang sebenarnya jadwal aku libur kuliah, pukul 5 pagi itu aku bersama beberapa karyawan pamanku menyulut hangatnya api beserta sesaknya udara pagi. Tungku kayu bakar pun menyala dan cerobong mengeluarkan asap hitam, itu tandanya aku harus segera membuat adonan kerupuk sampai ke mesin pres (mesin cetak kerupuk). Walaupun masih pagi jangan berharap darah ini terasa dingin, keringat bercucuran dari karyawan pembuat adonan, sesekali aku menambah derasnya keringat mereka. Setelah adonan selesai gilliran memasukan adonan ke mesin pres, lalu secepatnya aku turun dari mesin dan mencetak kerupuk. Hal yang menyenengakan di sela – sela kelelahan adalah bercanda mngerjai karyawan yang lagi serius bekerja, tidak ada yang tersinggung saat kami bercanda, kalaupun ada mereka takan memasukan ke dalam hati, dan akan hilang terbawa mimpi di lelahnya malam.

Biasanya hari sabtu dan minggu ada karyawan yang libur, dan itu menjadi lahan pekerjaanku untuk menggantikan mereka, karena pamanku membuat sistem kontrak produksi buat pekerjanya, jadi siapapun yang bekerja akan mendapat uang tunai harian tiap dua minggu. Terkadang ada juga karyawan yang tidak libur tapi masih tidur, maklum juga karena mereka bekerja nonstop setiap hari dengan waktu libur yang mereka tentukan sendiri, tidak ada kata lembur untuk perkerjaan seorang kuli, begitupun aku seorang kuli pembuat kerupuk yang sedang belajar di fakultas teknik mesin. Hari sabtu juga merupakan hari libur, dimana teman – temanku datang untuk sekedar meminjam buku, bermain ataupun belajar. Saat mereka datang aku keluar pabrik dan posisiku digantikan karyawan tetap. Dengan percaya diri aku keluar dengan wajah dan badan yang putih berseri dan juga bau terasi. Tentu saja teman – temanku jaga jarak kalau aku belum mandi hahaha. Pekerjaan kerupuk serupa dengan tukang minyak wangi, hanya saja baunya yang tak sedaplah yang menyengat, hahaha.

Sering kali teman – temanku menanyakan tempat aku tidur atau tempat aku belajar. Lalu kubawa mereka ke ruangan 2,5m x 2,5 m dengan tinggi kurang lebih 1,5 m. Ruangan yang telah mengakrabkanku dengan para kuli pekerja di pabrik kerupuk. Disitu terdapat sound system komputer, tapi tidak ada komputer disitu hahaha. Kalo belum terbiasa hati – hati saat membuka pintu kamarku, karena pintunya diangkat seperti membuka pintu saluran drainase. Jangan harap kamarku wangi, karena beberapa keringat bercampur disini, kurang lebihnya ada 4 orang. Di ruangan yang sebenarnya atap dari gubuk yang udah goyang alias reyod ini aku belajar diterangi lampu sorot neon 10 watt. Kalau hujan kamar ini sejuk dan segar, terkadang aku mengeser – geser buku pelajaran agar tidak basah terkena air hujan. Kalau malam aku tidak akan kesepian karena suara nyamuk tak akan pernah hilang dari telingaku.

" Tidak usah khawatir dengan nyamuk, walau gimanapun solusi paling baik adalah membiarkan nyamuk menggigit, karena tidak ada obat nyamuk yang mujarab di kamarku ini ".

Berikutnya adalah bagaimana dengan pemandangan????? Kamarku ini adalah apartemen lantai dua yang bisa melihat pemandangan 180º kalau sore kamu bisa menyapa tukang siomay di gang dan memesannya dengan berteriak, kalau malam kamu bisa liat orang pacaran sambil sesekali mengganggu, dan kalau pagi indahnya sinar mentari tepat di depanmu. Itulah hal yang mungkin membuatku betah tinggal selama ±1,5 tahun di apartemen kandang burung atau apartemen tikus ini. Dibilang kandang burung karena di luar, dinding kamarku ini tempat gantungan kandang burung. Tapi lebih tepat lagi dibilang kandang tikus, karena banyak korban yang kakinya dimakan tikus hidup - hidup saat mereka tidur di kamarku, termasuk aku sendiri hahahaha.

“Kejadian yang mengerikan dan lucu karena monster pemakan kulit kaki manusia itu adalah tikus”.

Kalau siang jangan mencoba – coba kamu tidur di kamarku, karena temperaturnya cukup tinggi, tepat dibawah genteng dilapisi plastik ± 35 ºC. Lumayan sejuk dibandingkan bekerja di pabrik yang temperaturnya bisa melebihi 40 ºC ditambah asap putih yang pedih dimata. Saat siang hari itu proses pencetakan kerupuk berakhir, karena kerupuk hanya boleh dicetak sampai pukul 1 siang, jika melebihi jam tersebut maka kerupuk tidak akan kering dijemur matahari. Beberapa temanku yang sering aku jahili ialah seorang teman kerja dengan kepala boxi (botak seksi), lalu seorang karyawan dengan kulit hitam yang merasa wajahnya mirip ariel, dan seorang karyawan yang memiliki badan besar namun suaranya seperti perempuan hahaha.

Kalau dipikir – pikir masa yang aku nilai sulit itu mengalir tanpa halangan berarti seakan – akan aku bahagia dengan segala keterbatasan saat itu. Itulah yang meyakinkanku setuju dengan pernyataan bahwa

“ kebahagiaan manusia tidak bisa diukur oleh harta “.

Seakan – akan itulah duniaku, tempat aku menghilangkan stress dengan kelelahan dan canda tawa di hari sabtu dan minggu, sesuatu yang aku sadari saat ini adalah bahwa “saat itu aku sama sekali tidak mengeluh dengan keadaaan tersebut??” justru aku banyak mengeluh setelah mulai merasakan sedikit kenyamanan. Tapi itulah hidup kadang tegar kadang gemetar.

*** Itulah kenananganku di sebuah gubuk reyod yang telah dirobohkan di pertengahan tahun 2009 di desa lamper tengah semarang.


“ Jika kita lunak dengan diri kita maka dunia akan keras dengan diri kita, dan jika kita keras dengan diri kita maka dunia akan lunak bagi kita ”

( Dindin Komarudin )

Biarkan Tuhan yang Membalas

100410

2001 saat itu SMP kelas dua, jika aku pulang tak terlalu sore atau tidak kesorean aku bergegas mencari hiburan ke sebuah pabrik sederahana milik pamanku. disitu aku tidak bermaksud bekerja, aku hanya ingin bersenang - senang bercanda dengan karyawan pabrik. aku naik ke atas tataban ( tempat orang memutar mesin press adonan kerupuk ) disitu aku membantu seorang teman sekaligus karyawan pamanku yang jika malam menginap di rumahku. Seperti yang kubilang aku tak berniat bekerja hanya ingin bercanda, sambil memutar mesin press senda gurau dimulai seperti panggung artis di tataban keluar asap putih, terkadang bercampur uap panas dari wajan pengukus kerupuk, bukan asap wangi yang keluar dari pentas namun sesaklah yang menyerang. kaos yang dekil pun digunakan untuk menutupi hidung yang terkadang menghitam saat abu dari cerobong terhisap. Tapi jangan cari orang yang sedih disini, karena hanya ada orang tertawa terbahak - bahak kadang sampai batuk-batuk.

Saat itu pamanku hanya tesenyum dan sesekali memasukan kayu bakar ke tungku dan sembari mengejek karyawan. saat libur jika aku tak bermain dengan teman smp aku pergi ke pabrik mulai dari pagi hari. seperti biasa pekerjaanku hanya bercanda. suatu saat aku disuruh mengantar dia membeli bumbu di pasar kota. aku pun bergegas membawa motor bebek 4 tak tahun 91, dengan motor tua itu aku memboncengnya saat di jalan aku mengobrol terus dengan pamanku itu, sampai akhirnya di tengah jalan dia berkata padaku " jadi orang harus kerja keras, jangan mudah menyerah jangan pernah mengalah dengan keadaan, mun keyeng tantu pareng ( kalau ada kemauan pasti ada jalan " pembicaraan terus berjalan, namun ada hal yang memang merubah jalan hidupku dikemudian hari waktu itu, entah karena apa?, dia bilang secara tidak langsung bahwa dia suka dengan pekerjaanku yang cukup membantunya. Saat itu dia berkata :
" Jika suatu saat nanti kamu tidak memiliki dana untuk melanjutkan pendidikan setelah SMA kamu hubungi aku saja, mungkin saja saat itu mamang bisa membantu "

waktu terus berjalan hingga saat aku SMA aku ditanya oleh orangtuaku, tentang masa depan pendidikan aku dan kakaku, saat itu hanya ada 2 pilihan aku atau kakau yang kuliah, namun mengingat kakaku adalah perempuan tak pikir panjang aku mengatakan kakaku yang kuliah, namun bukan pilihan itu yang aku maksud, aku berpikir seorang perempuan lebih sulit mendapatkan pendidikan formal saat itu. sedangkan aku masih bisa melihat masa depan dengan baik tanpa menghiraukan pilihan tersebut. akan lebih berarti jika itu untuk orang lain.

saat menjelang ujian akhir nasional aku mencoba mengikuti bebrapa les, biaya les aku dapatkan dengan menjual produk pakaian dari sebuah MLM. tak banyak yang aku dapat hanya bisa untuk mengikuti beberapa les penting saja. namun di saat ujian akhir sekolah yang membuat semua orang merasa khawatir tak akan lulus aku tak merasakan ketakutan itu, aku hanya berpikir apakah aku bisa menembus SPMB, setidaknya aku bisa menembus ujian yang dianggap tidak mudah itu, aku tak berharap jika aku benar2 bisa kuliah. namun kenyataan berkata lain saat aku mencoba menghubungi pamanku, aku mengirim sms dari sebuah wartel depan sekolah, hanya mengingatkan janjinya dulu. saat itu memang kondisi pamanku telah menjadi lebih baik, sebuah mobil telah dia miliki, menurutku itu sebuah pencapaian yang cukup besar dibanding saat aku masih smp, pabrik yang dulu di kampung di urus adik iparnya, salah satu pamanku juga. Ternyata SMS itu sampai juga, tapi aku tak dia kursuskan seperti permintaan aku dulu, dia menyekolahkanku di sebuah perguruan tinggi yang aku tembus.

Akhirnya sms itu membawa kau ke sebuah tempat kuliah, dan membawaku pula ke sebuah tempat aku bercanda, aku bertemu kembali dengan teman bercadaku disana. semua seperti masa smp kembali, walaupun saat itu aku tinggal di sebuah "sarang tikus" namun aku cukup senang dengan duniaku. aku merasa tak ada yang menghalangiku saat itu. aku tak risau dengan teman tidurku ( nyamuk dan tikus ) karena setiap hari aku bisa melihat masa depanku sembari menghirup asap hitam kendaraan di sejuknya pagi saat aku berangkat kuliah. sebuah motor yang disediakan khusus untuk aku kuliah. meniti tangga ke lantai 3 setiap hari di kampus. dan bercanda di sabtu dan minggu bersama karyawan pabrik. hampir mirip zaman aku SMP. saat itu aku merasa semuanya berjalan Lancar walau memang terdapat kerikil di tengah jalan, namun itulah hidup. sampai akhirnya pabrik berlantai tanah berubah menjadi lantai keramik. sesaat sebelum aku lulus aku bisa tidur di kasur dengan pegas dan tinggal di rumah yang sejuk. sampai aku tak ingin pergi rasanya dari rumah itu. bukan karena mewah, tapi aku merasa ini rumahku yang baru dan seorang ayah yang baru, bagiku dia ayahku yang ke-2. Namun sesaat sebelum aku pergi ke bekasi untuk bekerja dia berkata:
" tak perlu membalas budi, jika ada kelebihan rezeki bantulah orang tuamu dahulu, pikirkan masa depanmu, jangan boros, dan jika ingin bermain kesini pintu masih terbuka lebar, jika memang ingin berterimakasih tak perlu berlebihan semampu kamu karena aku sudah berkecukupan, dan berterimakasihlah pada Tuhan karena Dia lah yang meberi jalan "


*** " manusia bukanlah malaikat ataupun tuhan jika kau ingin bersyukur berterima kasihlah pada tuhan dan bantulah makhluk-Nya yang kurang mampu "

*** " berbagilah dengan sesama, bukan kemewahan yang Tuhan nilai tapi keikhlasanlah yang dinilai "